Sekarang situs ini pindah ke RuangInfoTips.com | Dalam beberapa bulan situs ini tidak dapat di akses lagi.
Situs Ruang & Berbagi Informasi
Search » 

Kecanduan Cinta

Kecanduan cinta sama buruknya dengan kecanduan lain, terutama untuk kesehatan jiwa. Banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan akibat kecanduan cinta!

Banyak orang salah persepsi tentang cinta sejati dengan cinta yang bersifat candu. Media, terutama film, sinetron, ataupun lagu turut andil dalam kaprah antara cinta sejati dengan cinta candu. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam pengertian yang keliru antara kecanduan cinta dengan cinta sejati. Contoh ekstrimnya, ada orang yang bunuh diri karena ditinggal pasangannya. Orang menilai bahwa cerita ini mencerminkan kisah sejati.

Tanda-tanda
Ada beberapa hal yang menunjukkan seseorang mengalami kecanduan cinta, antara lain:
• Adanya pikiran obsesif, terus-menerus curiga kesetiaan pasangan. Terus-menerus takut ditinggal pasangan sehingga selalu ikut ke mana pun kekasih pergi. Selalu menuntut perhatian dari waktu ke waktu, tanpa ada toleransi dan pengertian.
• Manipulatif, berbuat apapun agar pasangan mengikuti kehendaknya atau memenuhi kebutuhannya. Misalnya, mengancam akan memutuskan hubungan jika pasangan memilih mementingkan hobinya.
• Bergantung pada pasangan dalam segala hal, mulai dari mengambil keputusan sampai dengan memilih warna pakaian.
• Menuntut waktu, perhatian, pengabdian dan pelayanan total pasangan, sehingga pasangan tidak dapat memiliki waktu dan kehidupan pribadi.
• Menggunakan seks sebagai alat untuk mengendalikan pasangan. Bahkan menganggap seks adalah cinta. Seks sebagai sarana untuk mengekspresikan cinta.
• Tidak bisa memutuskan hubungan meski tertekan karena janji-janji pasangan tak kungjung terwujud.
• Kehilangan salah satu hal terpenting dalam hidup, misalnya perkerjaan atau hubungan dengan keluarga inti demi mempertahankan hubungan cintanya.
• Tidak ada istilah puas dalam hubungan yang terjalin antara orang kecanduan cinta dengan pasangannya. Demikian juga orang kecanduan cinta, mereka tidak pernah mampu membagikan cinta secara tulus pada orang lain karena merasa kehausan cinta. Maka banyak orang sering berganti pasangan karena merasa harapannya tidak dapat dipenuhi sang kekasih.

Padahal meski puluhan kali berganti pasangan, orang yang kecanduan cinta akan sulit membangun hubungan yang stabil dan langgeng. Dari sinilah banyak yang menyalahkan pasangannya sebagai sumber masalah. Tidak mampu melihat masalah sebenarnya yang terletak pada diri sendiri.

Kebutuhan Psikologis
Seseorang yang kecanduan cinta biasanya tidak terpenuhi kebutuhan psikologis, sperti: kasih sayang, perhatian, kehangatan dan penerimaan seutuhnya saat masih kecil. Orang yang pada masa balitanya tidak mengalami keletkatan emosional stabil, positif dan hangat dengan lingkungan, orang tua dan keluarga, akan sulit mempercayai dirinya sendiri. Trauma psikologis yang pernah dialami seperti penyiksaan emosional dan fisik pada usia dini, atau menyaksikan menyaksikan sikap dan tindakan salah satu orang tua yang kasar terhadap pasangan, dapat menghambat proses kematangan identitas kepribadian dan kestabilan emosi. Pengalaman tersebut berpotensi mempengaruhi pola interaksinya dengan orang lain.

Keterbatasan respon dari lingkungan pada waktu itu, dipersepsikan sebagai bentuk penolakan tersebut disebabkan oleh kekurangannya. Pada banyak orang, masalah ini rupanya tidak terselesaikan dan akibatnya, sepanjang hidup ia berjuan untuk mengendalikan lingkungan atau orang-orang terdekat supaya selalu memperhatikannya.

Mereka berusaha keras membuat dirinya diterima dan dimiliki orang lain. Orang seperti ini begitu cemas dan takut jika kehilangan orang yang selama ini memikinya. Sebaliknya ia akan kehilangan harga diri jika kehilangan sang pemilik.

Kondisi Emosi
Akibat jangka panjang seseorang yang kecanduan cinta akan berada dalam kondisi emosi yang labil dan menjadi terlalu sensitif. Mudah curiga pada teman, sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan keluarga pasangannya. Menjadi mudah marah, cepat tersinggung dan bagi sebagian orang ada yang bertindak agresif dan kasar demi mengendalikan keinginan dan kehidupan pasangannya.

Pasangannya harus mengikuti keinginannya dan memperhatikannya. Ia juga mudah merasa lemah. Karena seluruh energi dimamfaatkan untuk mengantisipasi ketakutan yang tidak beralasan dan melakukan tindakan untuk menjaga pertahanannya. Kehidupan demikian membuat dirinya menjadi orang tidak produktif. Sehari-hai yang dipikirkan dan diusahakan hanyalah bagaimana agar miliknya terjaga.

Bagi sebagian orang yang cukup sadar mempunyai kekuatan pribadi, ia akan berani mengambil sikap tegas dalam menentukan arahnya sendiri.

Menurut para ahli psikologi dan kesehatan mental, salah satu syarat utama untuk dapat menjalin hubungan yang sehat, sekaligus menjalani kehidupan yang produktif adalah mempunyai kesehatan mental yang sehat dan identitas diri yang solid.

Sumber : Koran Jelita Agustus 2006

No related posts.

Category: Psikologi
Tags: , ,

Leave a Reply »  Do you want to comment? Click here